Kamis, 19 Juli 2012

Pulau Sempu yang Sempurna





“A journey of a thousand miles must begin with a single step.” — Lao Tzu

Begitu banyak pulau yang tersebar di Indonesia Raya tercinta, exsotismenya selalu menimbulkan daya tarik yang tidak akan pernah pudar. Salah satu dari sekian banyak harta katun di bumi pertiwi kita adalah Pulau Sempu.

Pulau sempu berada di kabupaten Malang, Jawa Timur, yang merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Secara geografis, Pulau Sempu terletak diantara 112° 40′ 45″ – 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ – 8° 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.


Single step from Solo
Awalnya saya ngga berencana ikut trip ini, karena waktunya hanya terpaut 1 minggu dari puasa pertama. Ditambah ritme kerja dan suasana hati yang menghimpit, saya rasa this trip doesn't held in the right time (for me). Entah kenapa suatu pagi saya terbangun dengan tekat bulat ingin ikut kesana. Dan akhirnya saya pun mendaftar di saat-saat terakhir.

Dari twitter saya tau beberapa teman yang juga ikut trip ini sudah melakukan TC (Technical Simulation) untuk melatih fisik menghadapi tracking di medan pulau sempu yang cukup licin dan becek selama 1,5 - 2 jam ditambah lagi kita membewa tas carrier segede gabang.

That's what my friends do, me ? I do nothing. TC saya hanya jalan dari bathroom ke bedroom, bathroom ke bedroom, begitu terus. 

Seminggu sebulum hari H koordinator acara @BackpackerSolo mengadakan acara kumpul kumpul, membahas itinerary, fix hampir 50% barang yang perlu di bawa saya ngga punya. Oh Crap!.
Dan masalah terselesaikan saat teman kampus saya yang seorang pecinta alam menawarkan barang barang yang bisa saya pakai.

H-1. 
Saya belum packing dan hanya 32 jam dari sekarang saya bakal menenteng ransel on the way ke pulau sempu. Tapi saya sudah membuat list barang yang akan saya bawa, dari 12 jenis obat, toiletries, sunblock dan beberapa basic skin care , dan berbagai perlengkapan perang lainya.
Saat saya sedang di perjalanan menuju ke tempat kerja saya di sebuah Rumah Sakit Swasta di Delanggu, tepat di depan RS tempat saya kerja saya jatuh tersungkur karena ban motor saya menginjak butiran pasir. Rasanya ? sakit sudah pasti, dan MALU yang sudah tidak terukur. Kaki kiri saya tergores cukup dalam.

Sampai di rumah saya mulai packing, dan saat mencoba sandal traking yang masih bau toko, kaki saya ternyata tidak kompetible mengunakan sendal ala mak lampir itu, bagian tali samping sendal mengores luka saya yang masih baru. Fix, sendal itu saya tinggal di rumah.

The Day

My family and my grandme

Sudah seminggu eyang saya main ke rumah, she's my only grandma I have. She's 87 now. Sedih deh harus ninggalin eyang, karena saya tau saat saya pulang dari sempu nanti, beliau sudah pulang ke rumah nya di Magetan. Sore itu sepulang kerja saya main lulur luluran sama beliau, walaupun sudah uzur eyang saya hobby banget mempraktekan resep kecantikan di tabloid Nyata. Sambil menggosok kaki, tangan dan punggungnya beliau bercerita banyak, tentang hidup nya dulu, tentang sayangnya pada alm eyang kakung saya. Saya sempat menangis saat melihat kulit yang mulai kisut dan keriput, pembulu darah vena yang terlihat nyata. Badan ini telah hidup lebih dari setengah abad, dan tangan yang saya gosok sekarang telah mendekap 11 anak dan menggendong lebih dari 25 cucu.


Saat kecil saya hanya bertemu eyang 3x dalam 1 tahun, di liburan sekolah dan lebaran, tapi eyang saya tidak perah luput mengawasi saya. Setiap saya ulang tahun, selalu ada surat dengan tulisan tangan dengan goresan tegas di balut huruf latin yang berisi ucapan selamat dan doa-doanya.
Di saat suatu prestasi datang surat dengan tulisan tangan yang sama meluncur lagi kerumah saya.
I love you eyang because you are is a little bit parent, a little bit teacher, and a true best friend.

Beberapa hari yang lalu saya sempat uring uringan karena kaca mata renang saya di tinggal adek di kost an temanya. Adek saya memang ceroboh. Dan tanpa di duga tanpa di nyana jam 4 sore dia pulang kuliah dengan muka kucel dan amburadul mendadak memeluk saya sambil meberikan kaca mata renang baru. OMG! dari merek nya saya tau kaca mata ini tidak murah, dan saya juga tau persis berapa uang yang tersisa di dompet adek saya beberapa hari lalu. "Kok pake beli kacamata baru dek?" "Habis yang lama talinya putus, ini aku beli yang kacanya putih jadi mbak nia bisa lihat ikan jelas, sebenernya aku pengen yang biru, tapi nanti ikan di laut ngga kelihatan jelas" begitu penjelasan adek saya sambil pringas pringis.


Ayah, mama, eyang, budhe  dan pakde sedang pergi jalan jalan sore menikmati kota Surakarta. Dan saya melalukan final packing bersama adek, We talk, and we talk and we talk a lot. Sebelum saya sibuk kerja dan adik tercebur di Fakultas Kedokteran kami sering cerita cerita, main, begadang bahkan tidur bersama. Sepertinya banyak hal yang terjadi di hidup saya maupun adek yang terlewat tanpa kita saling tau.

Kesibukan 2 minggu belakangan membuat saya mengesampingkan tugas domestik saya menyetlika baju (saya). Dan ini berimbas pada tidak adanya pasokan t-shirt. Ngga mungkin kan saya mau traking di gunung pake baju sabrina atau siffon. And my brother ask me to use his t-shirt, his pants dan
Terakir sebelum saya berangkat, he offer me to use his NEW NIKE jacket -yang baru 2 hari dia reyen-, yang dia claim bakal menghindarkan saya dari udara dingin di perjalanan maupun di sempu.

Me and My brother


The Journey to Sempu Island


Jumat 13 Juli 2012 Jam 20.00 WIB, rombongan backpacker solo berkumpul di terminal tirtonadi. Peserta trip ini ternyata buanyaaaaak ada 43 orang. Dan saya hanya mengenal beberapa, ya hanya beberapa. Di awal trip ini kita memang berencana naik kereta ekonomi solo-malang. Tapi apa mau dikata membludaknya peserta dan tidak cukupnya tiket kereta membuat kita membelokkan moda transptasi umum menjadi bis.

Untuk yang lain memang bukan masalah besar. Tapi bagi saya itu adalah momok. Sejak kecil saya agak "phobia" naik bis, karena setiap naik bis saya pasti muntah. Bukan muntah yang saya takuti, tapi proses menuju muntah yang rasannya siksaan neraka level 1. Padahal setelah muntah badan saya sehat bugar. FYI : saya dapat info naik bis H-7 saat kopdar Backpacker Solo, dan saya langsung mual seketika itu juga.

Siangnya saat di tempat kerja saya sempat konsultasi dengan seorang rekan Paramedis tentang obat penahan mual, karena saya ngga mau mengkonsumsi antimo -yang menurut saya bikin teler dan rasanya ngga enak-. Obat sudah di minum, tapi saya masih ragu, it works on me or not, ok let see, Bismilahhirohmanirohim.

Rombongan berangkat pukul 22.00 WIB dari solo dan sampai di terminal Bungurasih, Surabaya pukul 03.30 WIB. Rombongan kami beristirahat di masjid terminal, menanti adzan subuh dan rombongan lain dari Surabaya.

Rombongan sejumlah 43 orang ini masih berpencar, saling bergerombol mebentuk gap gap tersendiri, kami belum akrab satu sama lain, sedikit kekhawatiran muncul melihat para angota rombongan lain rata rata sudah senior naik gunung dan sebagainya. "Mapuslah, nanti kalo aku ngga kuat jalan dan ditinggal gimana, mana ini carrier  45L beratnya ampunnn"

Hari Sabtu Pukul 06.00WIB kami bertolak ke Malang, dengan BIS kecil. See, bismania everytime. Perjalanan ini memakan waktu 3 jam, dan kami pun sampai di terminal Arjosari dengan selamat.

Kalau anda berfikir Pulau sempu tinggal beberapa langkah, anda salah besar. Dari terminal Arjosari kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Pantai Sendang Biru, dengan mobil ELF selama 3 jam. Yes three more hour to go baby !

Jalan yang dilalui bukan jalan lurus ala jalan tol, tapi jalan berliuk liuk dengan beberapa lobang menganga dan jalan yang sangat sempit untuk simpangan. Saya bejubal dengan 3 teman di jock belakang ELF, rasanya tulang ekor saya sudah merionta ronta minta di luruskan. Uki dan Surya yang duduk sederet dengan saya sangat beruntung bisa tidur dengan nyenyak sampe pose "minta air" (ngowoh), saya cuma bisa mendekap erat kantong plastik siaga 1 siapa tau saya jackpot.


Perjalanan itu Terbayar


Setelah 3 jam yang menguncang -dalam artian sebenarnya- kami tiba di Pnatai Sendang Biru. Pemandanganya sudah cukup memuaskan hati, dan pulau sempu sudah tampak di ujung mata.
Beberapa dari kami ada yang tidur berselonjor di bawah rimbunya pohon kelapa, ada yang asik makan bakso, ada juga yang mandi dan sholat.

taken from http://noertjahja.blogspot.com

Setelah semua kegiatan pribadi, rombongan berkumpul di tepi pantai sendang biru, kita akan menyebrang selat sempu dengan kapal. Menurut saya kapal ini mirip kapal nelayan.
Kapal tidak bisa mengantar kami tepat di bibir pantai, karena ada karang, jadi kami harus memanggul backpack masing masing membelah air laut menuju bibir pantai.









Dan kita pun traking. Jalan berlumpur, pohon tumbang, batu katang yang mencuat di mana mana. Hati saya sudah kebat kebit, mampu ngga saya sampai di Segara Anakan tempat kita bakal nge-camp. Saya berjalan beiringan dengan Surya -si pegawai pajak-, Anita, dan Hefil. Yep, kami ber-4 adalah newbi untuk urusan traking bertraking. Walaupun dulu saya sempat bacpacker-an ke Karimunjawa maupun Rafting bareng Anita dan Hefil, tapi medan sempu ini sungguh tantangan baru bagi kami.
Tapi setau saya Anita dan Hefil sudah sering TC. Ada juga Uki yang masih newbi untuk traking tapi sudah pernah muncak di lawu. Nasip!


persiapan sebelum tracking


taken from http://noertjahja.blogspot.com

Salah satu rintangan yang harus dihadapi



Pose kucel di tengah tengah acara tracking *see my face was sooo ugly*

taken from http://noertjahja.blogspot.com


Seperempat perjalanan baju saya mulai basah, saya berkeringat hebat. Seingat saya terakir saya berkeringat sederas ini waktu masih aktif latihan basket di Bhineka Sritek Solo. Nafas saya mulai memburu, tidak teratur. Kami beristirahat beberapa kali. Dan itu masih tidak bisa menstabilkan nafas saya yang sudah mulai senin-kamis.

Entah pada pemberentian keberapa, teman kuliah Uki, Alvian "nyo-nyo" yang baru saya kenal beberapa jam lalu mencoba membetulkan posisi tas saya. Dan ternyata, kalau paka tas carrier itu harus pas badan biar tidak terasa berat,resikonya memang pundak agak sakit, tapi begitulah tekniknya. Dan saya cuma melongo ber o-o ria.

Sepanjang perjalanan saya berkali kali menggigit bibir bawah, tujuannya agar saya tidak bersuara. Saya takut terlalu banyak mengeluh, padahal saya hanya membawa barang pribadi saya. Dan mereka -para lalki laki- membawa peralatan untuk seluruh rombongn, dari tenda, rasum, air dsb.

Dan tidak diduga saya berhasil sampai segara anakan, buat yang lain mungkin biasa, tapi untuk saya ini luar biasa. Saya sudah mempersiapkan mental bakal di tinggal rombongan karena jalan saya merayap ala siput. Dan saya juga ngga yakin akan stamina saya yang tinggal sisa sisa perjuangan Belanda. Asli saya terharu.

Sampai di sana kami beristirahat sejenak dan mereka mendirikan tenda. Mereka ? yaa, di rombongan saya sudah banya senior pencinta alam, backpacker dan sebagainya yang dengan cekatan mendirikan tenda. "Lha trus kamu ngapai na?" saya cuma duduk di atas pasir pantai melihat semua hiruk pikuk tanpa membantu. Dan secara tiba tiba tas saya sudah manis ada di dalam tenda.

Saat fajar mulai menyingsing penghuni tenda depan saya Arini, Nyo-nyo mulai masak memasak. Menggunakan areng dan parafin. Saya sering mendengar tentang parafin yang merupakan turunan dari bla bla bla di pelajaran kimia jaman SMA. Tapi ini kali pertama saya melihat wujutnya. Putih kotak seperti sabun mandi, tapi baunya, super bau seperti jamban.

Dan Arini pun mulai masak memasak, saya, Anita, Hefil dan Uki menjadi penikmat makanannya. Sederhana, hanya mi instan, tapi kalau kita di alam bebas, memasaknya perlu perjuangan.

Suryapun tenggelam berganti malam, Reza "bebek" sebagai koordinator acara memulai acara masak memasak, entah siapa yang ikut serta dalam acara masak masal itu. Tidak berapa lama terciptalah nasi dengan lauk tempe dan sosis goreng yang tersaji di atas trash bag -yang masih baru tentunya-. Dan kami makan bersama.

Acara berlanjut pekenalan dengan api unggun seadanya dan lanjut tidur. Ini pertama kalinya saya tidur di sleaping bag, rasanya, seperti tidur di kantong jenazah, untung ngga ada teman yang menggunakan SB berwarna orange. Asli saya sedikit gagu tidur di dalamnya. Udara sempu cukup bersahabat, tidak sedingin perkiraan saya. Sayang sampai tengah malam bintang tidak muncul menerangi tidur pertama saya di alam.

Keesokan harinya acara bebas, kita mengexplor pulau dan bersih bersih pantai. We talk to each other like old friends, we take a lot and a lot and a lot of picture. Beberapa ada yang bersonkling ataupun sunbathing.

"Jangan meninggalkan apanun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar"
Dan kami pun mulai membereskan sampah kekacauan yang kami buat di pulau ini. Acara dilanjutkan dengan merapikan tenda. Dan sekali lagi saya lihat, mereka saling bantu membantu merapikan tenda, walaupun bukan tendanya. "Lha kamu ngapain na?" saya packing barang barang saya sendiri.

Track yang akan kami tempuh sama seperti kemarin, dan saya mulai kebat kebit, Setapak demi setapak, setetes demi setetes peluh mulai berjatuhan. Seperempat jalan berlalu, banyak yang berkata kalo saya pucat. Am I ? I think I'm fine, pretty fine. Dan sekali lagi bantuan datang pada saya, saat istirahan untuk minum dam mengatur nafas yang sudah senin-kamis. Teman saya Nyo-nyo mendadak membawakan carrier 45L saya. Dan saya cuma ditugasi membawa tas slempang yang tidak terlalu berat. Sakit jiwa batin saya. Medan masih panjang malah mau menambah beban. Sekali lagi saya mengekor dengan ber o-o ria. 

Dan kami sampai di bibir pantai, menunggu jemputan kapal yang menjemput. Deburan ombak dan tiupan semilir angin laut, merupakan perpisahan dari Pulau sempu.

gank newbi : Surya - Saya - Uki- Hefil - Anita




Kak Ria & Alvian nyo-nyo

Salah satu peserta dari Iran


Anita dan mas mas dari Iran

















New Family


Beberapa pelajaran yang saya dapat dari trip ini :

1. Banyak orang baik yang saya temui, terutama para lelaki di rombongan saya. Yang rela membawa aqua 3 L, peralatan masak, tenda dan sebagainya dan sebaginya. -walaupun ini sudah jaman penyetaraan gender-
2. Orang baru yang awalnya saling merasa asing dapat melebur -asal kita mau membuka diri -dan berakhir menjadi sebuah family.
3.  Percaya pada diri sendiri dan tidak banyak mengeluh, asal ada niat, jalan becek batu terjal semua bisa datasi. Walaupun ada luka yang harus di bayar
4. Rasa setia kawan dan tolong menolong yang masih belum pudar.
  • Mas Krisna yang menawarkan tukeran tas sama Uki, karena tas mas Krisna lebih enteng.
  • Para lelaki yang mau repot repot memasang tenda dan menbereskan tenda walaupun itu bukan tendanya.
  • Para lelaki yang rela menjadi koki dadakan masak untuk satu rombongan
  • Dan pasti masih banyak lagi cerita yang tidak saya tau....

Thanks everyone for the journey of live in sempu



Lokasi: Surakarta, Indonesia

11 komentar:

  1. wah q juga pernah ke pulau sempu tapi nggak sampe ke segara anakan...cuma di pinggiran pantainya aja...
    konon katanya, kalo malem usahakan balik lagi ke sendang biru jangan sampe nginep disitu...soalnya pengalaman bbrapa temenku yang nginep mereka selalu "ditampakin", ada yang kesurupan juga, malah ada yang sampe ketempelan sepulang dari situ...
    sayangnya pulau seindah itu ga dijaga kelestarian lingkungannya, banyak sampah bertebaran dimana2..
    Nice story

    BalasHapus
  2. Hai Frestea Agasshi, thank sudah mampir.

    Wah pas ak ngecamp disana pantainya penuh tenda, bnyk yg npecamp juga. Ada sih beberapa temen yg "ngelihat" untngnya ga kenapa kenapa.

    Iya jalan traking banyak sampah botol air mineral dan jasat jasat sandal yg ud terkubur. Sayang ya.

    BalasHapus
  3. Niaaa sering backpakeraannn???
    Ajak aku donk!!!! Aku juga orang solo lho. Cuma kebetulan habis beli rumah di jogja. Tapi masih suka pulang ke solo nengokin emak bapak.
    Iriiiii!!!!!!

    BalasHapus
  4. Mb Arum

    Iya mbak, hobby backpackeran tapi ya ga sering sering amat :-P
    Denger dari yosin mb arum mau pindah jakarta ya, mengikuti mas pacar.
    Follow @backpackersolo aja mbak, yg sering ngoordinir trip trip amazing dgn buget minimalis.
    Solo-Sempu-Solo aja kemarin cuma hbs 167k

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mau pindah. Jadi sekarang di puas2in dulu trip-nya. Kalau udah di jakarta kayaknya bakalan susah deh kalau mau main2 lagi. :'(
      Siap. Segera follow deh!

      Hapus
  5. nia, aku terharu denger keakraban dan rintangan di jalan, btw mas nyonyo ganteng yaaa? *salah fokus*

    BalasHapus
  6. Yosin : udah ak kenalin kan sama nyonyo, monggo dilanjut sendiri.

    SekarArum : kalo di jakarta ya ke pulau seribu jeng, lumayan kalo snorkling di sana. Tapi tetep ga se bersih karimunjawa sih.

    BalasHapus
  7. Pulau seribu mah piknik mahal judulnya. & yang pasti udah blas nggak alami T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih mbak, udah pernah coba rafting mbak ?

      Hapus
  8. Hai... kunjungan balik :)
    Huah senangnya, aku belum kesampaian ke Sempu. Rencananya libur natal besok.
    Hope I'll get there soon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buru deh kesana, dijamin nagih.
      Hope you have a wonderful trip in sempu.

      Hapus