Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2013

[BodrexJuaranyaCepat] Langit Biru Awan Putih di Lawu 3265 Mdpl Tanpa Sakit Kepala.

  4 comments    
categories: 


"Action will remove the doubts that theory cannot solve."
~ Tehyi Hsieh


Saya lagi galau segalau-galaunya. Sudah dari lama saya pengin merayakan ulang tahun di puncak gunung Lawu, gunung yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota tempat tinggal saya di Solo. Sedikit absurb sih mimpi saya mengingat track record saya yang lebih doyan jadi anak pantai dan baru pernah sekali naik gunung, semeru, awal tahun lalu. Hal yang bikin galau kuadrat adalah ketika ide muncak di gunung lawu difloor kan, teman-teman saya yang sudah pro menanggapinya dengan serius. Terlebih tanggal dimana saya akan menjajaki puncak hargo dumilah (nama puncak gunung Lawu) tepat saat saya berulangtahun. What a wonderful fluke.

Kegalauan saya tidak berhenti di sini, tepat bulan Juni saya harus mengikuti progam magang dari kampus yang hukumya wajib, sebagai syarat untuk mengikuti ujian OSCA dan Ujian Skripsi. You may said “ yaudah biasa aja sih”. But let me told you, saya mahasiswa yang juga merupakan karyawan di sebuah rumah sakit swasta.  Saya ngantor senin-sabtu jam 08.00-14.00 WIB di lanjut magang senin-sabtu jam 14.00-20.00 WIB, untungnya rumah sakit tempat saya bekerja pengertian saya dapet dispensasi bisa cabut jam 12.00 atau 13.00 asalkan pasien sudah habis. Mana sempet saya latian fisik (baca: jogging-joging cantik) buat persiapan ke lawu.Well walaupun rencana trip kali ini cukup singkat 8-9 Juni dan saya bakal tracking selepas Isya pada tanggal 8 Juni, tapi saya tetep harus minta ijin dari tempat magang. Duhhhh

Bodrex Extra, meredakan sakin kepala yang membandel
Setelah segala kegalauan dan ijin dari tempat magang yang sudah di tangan, akhirnya tanggal 8 sore saya bergegas berangkat menuju base camp cemoro sewu. Cuaca lagi ngga bersahabat, Solo yang biasa terik hawanya berasa di pegunungan, perjalan ke sanapun ditemani rintikan hujan. Badan saya yang memang hampir seminggu kurang istirahat mendadak pusing nyut nyutan dasyat ngga kaya biasanya ditambah tengkuk saya tegang dan kaku. Duhh, buru deh saya ambil Bodrex EXTRA di kotak obat saya. Well, asal tau saja kalo Bodrek EXTRA merupakan varian dari Bodrex yang memang di khususkan untuk meredahkan sakit kepala yang mencengkram, tegang-kaku dibelakang kepala (source : here ). Dengan cepat Bodrex meredakan keluhan saya, sedap. 

Warung Mbok Yem
 tersohor dengan nasi pecel andalan
Tepat pukul 20.00 Wib, saya bersama tiga teman saya mulai menapaki jalanan landai berbatu. Ngga sabar buru pengen ketemu 6 teman saya yang lain, yang sudah mulai tracking dari jam 14.00WIB, pasti sekarang mereka lagi asik ngobrol di warung Mbok Yem (warung nasi pecel yang terletak beberapa meter di bawah puncak lawu)

Tracking kali ini persiapan fisik saya lebih abal dari persiapan ke Pulau Sempu. Ngga sempet mau jogging-joging cantik. Dari base camp ke post 1 semua masih berjalan lancar, jalan setapak membelah hutan cemara, gelap dan udara dingin masih bisa saya tahan. Pos 2 ke post 3 jalanan mulai bervariasi, jalan berbatu dengan sesekali tanjakan yang lumayan bikin saya lemes. Paham kan kapasitas saya yang sekelas atlit profesional, kalo 3 temen saya mah tetep santai.

Mulai post 3 jalan berbatu selalu menanjak nyaris tanpa bonus. Nafas saya makin ngos-ngosan, malam yang gelap, tapi bulan bersinar super terang, ditambah lagi sorot lampu head lamp pendaki lain yang kebetulan berpapasan. Siksaan di mulai dengan yang namanya ondo rante, tangga batu tertata rapi tapi selalu sukse bikin drop mental banyak pendaki termasuk saya. Jarak antar anak tangga (ondo) yang lumayan tinggi, medan yang terjal, fisik kelelahan dan udara malam Lawu yang terkenal sedingin es. Saya sudah mewek nyaris putus asa tidak mau melangkah. Bukan karena lelah, tapi melihat banyaknya pendaki lain yang sudah bobok manja di tenda kaki saya mogok di ajak jalan dan secara spontan air mata mengucur. Belum lagi ada sekelompok mas-mas yang tracking bareng saya, salah seorang angotanya berbadan kekar tampangnya sudah kelelahan jadi setiap beberapa meter berhenti. God, I can control my emotion, menurut saya medan di Lawu jauhhhhhh lebih berat dari Semeru. But big thanks buat Arini ngegandeng saya dari tempat saya mewek sampe sendang dajat. Ternyata it only takes 10 minute dengan jalan landai. See, memutuskan untuk naik gunung banyak yang harus kita persiapkan, ijin orang tua, peralatan memadiahi,logistik, fisik dan 100% mental.

Siksaan ondo rante telah terlalui, jalannya sudah banyak bonus, rencananya kami akan ngecamp di Mbok Yem, menyusul tema-teman saya yang sudah berangkat duluan. Tapi sampai di Sendang Drajat ( setelah pos 5 ) kami sudah kepayahan, sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan ke Mbok Yem karena jam yang sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Cukup banyak orang yang nge-camp di sendang drajat, 20 tenda lebih lah. Belum lagi para pendaki yang tidur di dalam warung merangkap selter. Bergegas kita mendirikan tenda, menyalakan kompor dan membuat kopi. Sesekali saya menatap warung yang juga merupakan selter di depan saya, kemudian muncul halusinasi  “andai warung itu udah buka, tempe anget enak ni”. Dari pada otak saya terus meracu, saya buru masuk ke tenda dan bergumul mencari kehangatan di dalam selaping bag saya.

Pagi buta tiga orang teman saya sudah ribut ngga sabar mau foto, kebetulan langitnya cerah, awannya bersih. Foto, iya hanya itu yang kita boleh ambil dari gunung. Mata saya masih lengket selengket lengketnya, saya membiarkan mereka bertiga berlalu. Setelah mata saya mulai bersahabat saya mulai merapikan diri, dan merasa sesuatu tidak beres. I got my period, first day kampret!. Memang sih sudah tanggal saya dapat “tamu bulanan” tapi ngga di gunung juga kan -____-

Pasang pembalut dan segala tetek bengeknya, kemudian saya cek kotak obat saya, ternyata masih ada Bodrek tablet. Sudah jadi tradisi saya kalo hari pertama badan suka demam-demang ngga jelas. Aman. Saya raba jidat, tutup mata dan merasakan kalo badan saya udah mulai demam-demam ngga enak.  Ngga pake babibu, buruan saya minum, karena Bodrex tablet bisa di minum sebelum makan.
Bodrex, bisa diminum sebelum makan

Hal yang paling menyenangkan di gunung adalah keakrapan antar pendaki, ternyata tepat di samping tenda saya ada tenda mas-mas yang saya temui ketika berangkat kemarin. Bermodal senyum nyengir kuda saya memulai obralan dengan mereka. Ternyata salah satu angota yang berbadan kekar dengan tampang super kelelahan kemarin, sebut saja Juli Panter sedang meringis menahan sakit. Mas Juli Panter migren, kata temanya gegara mikirin mantan tunangannya yang rencananya dinikahi akhir tahun ini malah ditikung temenya sendiri. Tsahhh, drama kehidupan.

Tenda mas Juli Panter di samping tenda kami
Shelter + Warung di sendang drajat.
"Sakit kepala sebelah ternyata lebih sakit dari sakit hati” ceplosan konyolnya bikin kita semua ngakak. Namanya di gunung semua adalah teman, saya inget di kotak obat saya ada Bodrex Migra. I offer it to mas Juli Panter. “Makasih ya dek, nanti tak minum habis bikin mi, biar ngga grogi”.  Dari obrolan ringan di ketinggian saya tau kalo mas Juli Panter CS cukup pro urusan naik gunung, Rinjanipun sudah di gagahi. Best quote of the day dari mereka adalah "Lelaki sejati tidak membawakan edelweis untuk kekasihnya, tetapi dengan sabar menuntun kekasihnya menyaksikan edelwise di tempat dia hidup" pecah banget. Well, badan saya udah mulai enakan, ngga demam lagi, jadi saya cukupi berbincang manis dengan Mas Juli Panter cs,  saya buru menyusul tiga teman saya.

Puas berfoto ria, biar besok ada bukti otentik buat di ceritakan ke anak cucu, kami bergegas berkemas, menuju warung mbok yem. Karena 6 teman saya pasti sudah khawatir menunggu kami (kaya ada yang ngawatirin aja :p ). Jalan dari Sendang Drajat ke mbok yem penuh dengan bonus, jalan yang landai ditambah pemandangan yang bikin breathless.
View dari Sendang Drajat ke Hargo Dalem (Warung Mbok Yem)


Langit biru dan jalan yang penuh bonus

Sampai di warung mbok yem kami hanya mendapati carrier dan day pack teman-teman saya. Zonk, mereka sudah muncak duluan. Ngga nunggu sampe besok, kami buru nyusulin mereka. Jarak antara mbok yem dan puncak tidak terlalu jauh kisaran 30 menit buat yang jalannya cepet. Karena saya bakat atlit profesional saya butuh waktu hampir 50 menit. Di tengah perjalanan saya berpapasan sama teman-teman saya yang udah mau turun, kampret !!!
“Ngapain muncak bawa daypack sama carrier, di tinggal di mbok yem aja kan bisa” jlep, saya langsung bengong. Iyaa, bego banget sih bawa-bawa daypack. Yaudah karena terlanjur basah ya saya lanjutin aja ngeteng daypack saya ke puncak. Anwy, berbekal skill nyepik saya yang lumayan jago, temen-temen yang pada mau turun akhirnya mau muncak lagi.

Awan yang biru langit putih bersih, seperti gula-gula kapas beterbangan di udara. Haru terselip, inget gimana kemarin saya sempet mewek, inget Arini yang ngegandeng saya, inget akhirnya saya bisa ulangtahun di ketinggian, inget tanggal 5 kemarin bapak saya juga berulangtahun. Puas foto-foto, naga-naga di perut sudah berontak minta di kasih makan dan kita pun menuju warung mbok yem. Kali ini saya cuma butuh waktu 20 menit-an. The power of luwe* (*lapar).

Perut kenyang hati senang, sayang gantian alam yang galau, hujan yang awalnya rintik berubah ganas. Akhirnya kita tidur-tiduran manja dulu di selter mbok yem. Sekitar pukul 11 saat hujan tidak lagi marah, kami pamitan ke mbok yem untuk turun gunung. Ngga kehabisan akal, teman saya yang sudah tau kapasitas saya yang sekelas atlit profesional nyuruh saya jalan di depan, yakin deh kalo saya jalan di belakang bisa ketinggalan jauh. Hahahaha.

Perjalanan pulang cukup menyenangkan, saya yang waktu beangkat jadi sweaper gegara banyak berhenti, di perjalanan pulang saya jadi leader *minta di toyor*. Saat melewati sendang drajat, saya bertemu dengan rombongan mas Juli Panter yang bersiap akan menuju puncak Lawu. FYI : Mas Juli Panter sudah bisa senyum mengembang sempurna, bukan senyum kecut dengan tampang hidup segan mati tak mau, seperti tadi pagi. He said thank you, Bodrex Migra terbukti tepat sasaran.
Bodrex Migra, ampuh mengatasi sakit kepal sebelah
Untuk turun saya cuma butuh waktu 4 jam beda banget dengan waktu berangkat yang nyaris 8 jam, tapi please jangan jadikan saya potokan, skill saya kan sekelas atlit profesional. Kalo teman saya serombongan yang udah Pro biasanya butuh waktu 3-4 jam untuk naik dan 2,5 - 3 jam untuk turun. Ya karena judul dari pendakian ini adalah camping ceria wajar kan kita menikmati tiap jengkal perjalanannya (alibi).

Sampai di Cemoro Sewu saya mulai membongkar tas, mengeluarkan sampah yang sedari kemarin saya jejalkan didalamnya, menyatukan dengan sampah yang lain di trash bag yang di bawa teman saya. Karena di alam kita tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak, mengambil apapun kecuali gambar dan membunuh apapun kecuali waktu. 

Sembari menikmati teh hangat dan tempe goreng, saya menyalakan hp. Ucapan selamat ulang tahun mengalir dari keluarga, sahabat, gebetan, mantan pacar, mantan gebetan, ibu kantin dan masih banyak lagi. Saya terharu dan mewek lagi. Ada satu pesan paling jlep dari Ayah, begini bunyinya " Mbak naik gunung itu seperti kamu mengejar cita-cita, capek, berat, terjal dan kadang membuatmu nyaris menyerah. Tapi kamu harus terus melangkah, karena ngga ada orang lain yang bisa mengantikan langkahmu untuk membawamu sampai puncak. Teriring doa, selamat ulang tahun semoga panjang umur, sehat,  bahagia, barokah dan menjadi anak yang solehah" aamiin.

Cukuplah memori yang terpatri, gelak canda tawa bersama sahabat, obrolan di ketinggian dan berbagai pelajaran yang akan saya bawa pulang ke rumah sebagai buah tangan.



Full team, Full Family

HBD AYAH 


Note :
  • Ada satu varian Bodrex lagi yang ngga pernah absen dari kotak obat saya tiap kali ngetrip, yaitu Boderex Flu dan Batuk berdahak. Untuk traveling saya selalu bawa yang tablet, easy carry dan ngga ribet. Tapi kalo untuk di rumah saya prefer Bodrex Flu dan Batuk berdahak yang sirup, cepat tuntas atasi flu dan batuk berdahak.
  • Saya sering mendapati banyak yang males membawa obat saat ngetrip.  "Ahh paling obatnya juga ngga kepake", ingat apa saja bisa terjadi saat ngetrip, persiapan yang memadahi itu wajib hukumnya. Tidak semua tempat menjual obat yang cocok untuk kita. Kalo saya sih doyan bawa kotak obat, bukan berdoa biar sakit, tapi antisipasi dan kalo-kalo ada pejalan lain yang membutuhkan obat saya. Share and care.
Bodrex Flu dan Batuk Berdahak



Mumpung masih kuat mari kita berjalan,menikmati eksotisme negri ini.Karena akan tiba waktunya kita terlau rapuh untuk berjalan.



Well, untuk info lebih lanjut tentang produk Bodex bisa dilihat di Fan Page maupun follow official twiter Bodrex :





Rabu, 31 Oktober 2012

Menoreh Fajar di bukit Menoreh


"Once you have traveled, the voyage never ends" (My Mom)




Setelah trip terakir saya ke Pulau Sempu ( HERE ) saya mulai rindu adrenalin rust ketika harus apply ijin ke orang tua untuk kembali membolang. Hampir 80% ijin (insya Allah) saya kantogi, tapi tetep kan harus persiapan matang gimana penyampaian yang baik supaya di approve. 

Bukan tempat tujuan yang jadi main point dari setiap acara trip saya, because every journey has their own story. Tujuan kali ini adalah bukit Menoreh, lokasinya sekitar 40 km dari Kota Jogja, atau 25 km dari Kota Magelang. Di bererapa tulisan di dunia maya di klaim sebagai :: suatu tempat yang exotis dengan pemandangan perbukitan dan ke asrian alam dan kita dapat menemukan pemandangan perbukitan yang bagus dari atas bukit Menoreh. Beberapa teman yang sudah pernah kesana pun mengatakan, kalau sedang cerah kita bisa melihat view candi Borobudur dari atas puncak Suroloyo (nama puncak dari bukit Menoreh).

Tanggal 22-23 September menjadi hari eksekusi perjalanan ke bukit Menoreh. Pasukan kali ini terbagi menjadi 2 kloter, ala-ala jama'ah haji. Kloter pertama mulai membelah terpaan angin malam, start dari rumah saja pukul 20.00 WIB. Perjalanan santai yang menyenangkan, saking santainya kami sempat "wedangan" dulu di daerah klaten, dilanjut numpang tidur-tiduran di depan alfamart di depan RSUD Sleman, sambil menunggu kloter ke 2 yang hanya berangotakan 2 orang.

Minggu, 23 September 2012, sekitar pukul 1 dini hari, setelah kedatangan 2 orang dari kloter ke dua, kami mulai mengeber motor menyususri jalanan yang lenggang. Beberapa kali kami berpapasan dengan para pemuda yang mabuk sambil mengendarai motor, mungkin mereka sudah siap menghadap penguasa #abaikan. Dan saat sudah sampai kompleks candi Borobudur, kami pun bebepara kali harus putra balik karena salah jalan. Maklum hanya seekor dari total 10 orang di rombongan saya yang pernah ke bukit Menoreh, dan lagi jalan malam cukup "manglingi".

Ketika sudah ada di jalan yang benar, membelah malam dengan keadaan gelap gulita dan gerimis kencang, serius jalan menuju kesana berupa jalan kampung tanpa lampu penerangan, kondisi jalannya pun sangat memprihatinkan. Ditambanh dengan beberapa teman, dan saya sendiri mendapat sambutan dari "penghuni dusun". WOW!

Kami pun sampai di kaki bukit Menoreh, kira-kira pukul 3 dini hari. Sepi, hanya rombongan kami dan satu rombongan lain yang mengunakan mobil, menilik dari plat AB sekiranya mereka rakyat Jogjakarta. Udara yang dingin membangkitkan naga naga di perut, ada sebuah warung, tapi masih tutup. Seorang teman saya yang dulu pernah main ke sini iseng mengetok pintu warung yang tertutup. Dengan basa basi level advance, kurang lebih beginilan reka ulang percakapannya ::
A : "Pak, njenengan kemutan kulo ? Yang tahun kemarin dateng ke sini, ya jam segini pak ?"
B : "Oalah, iya mas, kok ya berani beraninya jam segini ke sini, orang sini aja ngga berani lho keluar rumah jam segini"
Walalalala, segitu seremnya ya, percakapan selanjutnya out of my radar, karena saya langsung mosisi pewe di parkiran motor untuk tidur, menusul 3 orang teman saya yang sudah duluan bobok gemes di sana.

Beberapa saat kemudian, hasil rayuan maut ke bapak pemilik warung mebuahkan hasil, teman saya Kak Reza Bebek membawakan beberapa gelas susu ke arena bobok pewe. Sedangkan yang lain sibuk membuat api untuk memanaskan ayam bakar, bekal kita dari Solo. Kece kan bawa bekal dari rumah ??

Perut kenyang, mata segar, kita mulai menapaki tangga menuju puncakn suroloyo, sayangnya ada seorang teman yang lagi ngga enak body, mual, pusing, dan terakhir baru sadar kalo diare, jadi dia memisahkan diri dari rombongan, untuk bercinta dengan wc.


arena parkir dan bobok pewe





uki sejujurnya sedang menyemangatin dirinya sendiri
suspek diare & nyit-nyit







Puncak Suroloyo



view si sekeliling puncak suroloyo


view dari puncak suroloyo, yang berselimut kabut


jalan akses masuk ke bukit Menoreh, tanpa ada lampu.
Imunisasi dulu ban motor anda
aspalnya PHP


Kali ini medan yang ditapaki adalah tangga, lumayan tidak menulitkan, tapi tetap melelahkan dan dingin. Saran saya besok kalo kesini bawa pacar/suami, biar ada yang bisa di peluk peluk, untuk yang jomblo, bisa membawa kompor gas sebagai subsitusi, lebih anget malahan.

Setelah puas berdingin ria di bukut Menoreh, kami kemabali mengeber motor menuju bukit Manohara. Kenapa dinamakan Manohara ?? karena Manohara jadi naik daun setelah di siksa Pangeran di negri jiran, olalala BIG NO. Alasan logisnya, karena bukit ini terletak di kawasan Hotel Manohara. View yang kita dapatkan di Bukit Manohara, konon adalah candi Borobudur dengan sangat jelas. Yapastinya jelas, karena bukit ini hanya terletak beberapa kilometer dari Candi Borobudur.

Tapi sayang, kita datang terlalu siang, gagal menjemput sang fajar, alhasil kita hanya kleteran di tempat parkir, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Solo, via Selo, Boyolali, sambil melihat kokohnya Gunung Merapi.




Saat duduk di kursi pembonceng, banyak godaan yang terjadi salah satunya NGANTUK, here some tips to beat sleepiness ::
1. Mengobrolah dengan teman semotor anda, Ini cara yang paling efektif, bisa cerita konyol, curhat galau, cerita mistis, apa ajalah. Kalo teman semotor anda teralu pendiam, pemalu, terlalu cool, atau sedang sakit gigi, lebih baik anda bernyanyi sepanjang jalan. Kalau anda tetap memutuskan ngobrol sendiri sih juga ngga masalah, resiko di tanggung penumpang.
2. Berterus terang. Bukan cuma hubungan percintaan yang butuh keterus terangan, tapi ini juga berlaku pada hubungan pergoncengan naik motor. I experience by my self, saya ngantuk tingkat dewa, karena sungkan sama yang ngeboncengin saya, saya diem diem kece. Di suatu tikungan di daerah Selo, saya nyaris njlungup (anyone know apa bahasa indonesianya njlungup ?), untung teman yang ngeboncengin saya pengertian "kalo ngantuk pegangan aja". Dalam hati "nyawa udah di ujung tanduk, udah ngga jadi ngantuk". Dan akibat nyaris njlungup itu, saya masih deg-degan walau sudah sampai di rumah.
3.Berdoa. Udah ngga ada cara lain yang lebih afdol untuk mengalahkan rasa ngantuk. Berdoa saja agar selamat dunia akhirat. :P




Full Team (minus Rudi)

Full Team (minus Toye)


Full Team (minus Bebek)





Tetap sehat dan tetap jalan-jalan, See You in the next trip !

Senin, 03 September 2012

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Eksotisme di Balut Dinginya Alam

  4 comments    
categories: 




"Langkahkan kaki kemana kamu ingin pergi, bagaimanapun suasana hatimu"
(Kurnia, 2012)




Terinsiparasi semangat adik saya yang baru saja pulang nge-trip ke Taman Nasional Baluran & Taman Nasional Bali Barat, saya ingin membagi sekelumit kisah End-Year Trip saya tahun lalu.

Sudah lama saya membayangkan dapat menjejakan kaki di Gunung bromo, entah kenapa eksotisme alam di balut kekentalan budaya yang masih menyelimuti tempat itu megelitik hasrat saya. Dan pada 11-12-11 saya berkesempatan mencicipi indahnya gunung Bromo.

Kami serombongan berangkat dari Solo dengan menyewa ELF, berisi 12 Orang, dengan 1supir, berangkat pukul 16.00 WIB dari Solo. Pukul 2 dini hari, jalanan mulai menanjak dan menikung curam. Hawa dingin mulai menusuk kulit. Tepat pukul 3 dini hari kami sampai di tempat parkir mobil, packing sebentar kita melanjutkan perjalanan menggunakan Jeep. Yap, hanya Jeep yang diperbolehkan menyusuri jalan itu. Sedikit rasa penasaran saya menguak, ternyata hal itu memang bertujuan untuk mengidupi masyarakat sekitar. Tarif sewa mobil Jeep pun sudah di seragamkan, sehingga tidak ada persaingan tarif antar pengemudi. Dan merekapun sudah di koordinir dalam "Koperasi Jeep", yah that kind of think lah.
 
Gunung Batok
Jangan dikira perjuangan kami hanya pidah dari ELF ke Jeep dan sunrise sudah di pelupuk mata, No No No baby, kita masih harus menusuri jalan menanjak yang terjal, sudut kemeringanya kisaran 45-60 derajat (menurut saya). Nafas mulai terengah engah, ketahuan kalo jarang olahraga.
Untuk yang tidak mau capai, banyak tersedia kuda yang disewakan oleh pemiliknya untuk mengantar anda anda ke puncak. Nyaman sih (untuk yang naik kuda) tapi kadang si kuda ini suka menyerobot jatah para pejalan kaki, pilihannya hanya 2, minggir atau di cium kuda. Dengan keberadaan kuda ini juga membuat medan yang terjal semakin menantang, karena di antar gelanpanya subuh, kita harus berhati hati menghindari ranjau kuda baik yang baru ataupun sudah lumayan lama.

Dan ketika sampai di atas, rasa dingin mulai menusuk, tapiitu  tidak dapat menyembunyikan rasa puas yang membuncah. And here the photograph sewaktu saya dan rombongan sampai di atas dengan latar belakang gunung batok ::


























Harus lompat ketika turun dari bukit pandang


Kawah & Lautan Pasir Bromo


Jeep yang kami naiki berhenti di kawasan parkir Taman Nasional Gunung Bromo yang lokasinya sebelum Pura Luhur Punten yang terletak di tengah lautan pasir, kami meneruskan perjalanan menuju Kawah Gunung Bromo dengan berjalan kaki. Bagi yang tidak kuat berjalan kaki, dari area parkir juga tersedia persewaan kuda untuk menuju tangga naik ke Kawah Gunung Bromo.

Untuk menuju ke mulut tangga, kami harus berjalan terlebih dahulu melewati lautan pasir sejauh 2-3 kilometer menelusuri bekas tapak kaki manusia dan tapal kuda. Kami berjalan lebih santai karena tidak memburu waktu. Ketika melewati kawasan pura umat Hindu yang bernama Pura Luhur Poten, kami sempat berhenti sebentar sembari memperhatikan bentuk bangunan pura dan pemandangan Gunung Batok yang tepat berada disebelahnya.

Kami harus menaiki anak tangga yang berjumlah sekitar 250 buah untuk menuju puncak Gunung Bromo. Anak tangga yang cukup sempit, handle pegangan samping yang sudah reot serta menipisinya kadar oksigen membuat kami berjalan tertatih. Sampai di Puncak kawah, kami tidak stay terlalu lama, selain karena tempat yang terbatas dan beberapa di antara kami takut ketinggian sehingga cuma magrok saja, hujan gerimis pun mulai mengguyur, tak ayal kami segera bergegas turun.

Saat turun karena tergesa, saya memasukan pokect camera Sony W 230 saya, ke tas yang di bawa teman di depan saya. Dasar penyakit ceroboh saya yang sudah level benua antartika, dengan santainya saya masukan saja tanpa menutup tasnya dengan rapat, sekenanya saja. Alhasil kamera itu raib di telan hujan di kawah bromo.



Savana


Liburan terus berlanjut ke Savana yang terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, hamparan padang hijau menyambut kita dengan eloknya. Betapa Tuhan yang Maha Agung telah membuktikan kekuasaannya.

Disana angin bertiup sepoy sepoy, acara dilanjutkan dengan foto-foto, apa gunanya ada dua fotografer dengan persiapan alat yang lumayan kumplil kalo tidak untuk mengabadikan gambar. Here the photograph ::










DO NOT TRY THIS AT HOME !!!






Sableh, lagi telfon pacarnya yang ada di pulau borneo




Yohan, Fotografer


Bang Roma, Fotografer

Anggota K-PoP



Dibalik layar




*nyicil foto pre-wed*

Pasir Berbisik

Pasir Berbisik adalah sebuah lautan pasir luas indah yang berada di sekitar Kaldera Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. Nama panggilan itu tampaknya diberikan setelah sebuah film populer dengan judul sama menggunakan lokasi itu sebagai tempat pengambilan gambar beberapa tahun lalu. Yes, film pasir berbisik yang dibintangi Dian Sastrowardoyo.

Badai pasir ringan yang sesekali datang menerpa tidak mengganggu selera untuk terus menikmati pemandangan yang indah, dengan bentuk-bentuk karang unik, dan langit biru jernih yang mempesona.


















Note :
Buget untuk trip ini 160k/orang, meliputi : Sewa ELF, solar ELF, fee supir, sewa Jeep, Makan selama  perjalanan brangkat-bromo-perjalanan pulang

This is my bromo trip, what about yours ?